Selasa, 15 November 2016

ROMANTIKA










 
ROMANTIKA POLITIK DALAM SOROTAN MEDIA
Media merupakan sarana yang menjanjikan bagi mereka yang menginginkan sebuah populeritas demi tercapainya sebuah tujuan, karena media mereka menjadi ada tanpa media mereka tidak ada apa-apanya. Dahulu media hanya di jadikan sarana informasi tap semakin berkembangnya zaman media menjadi ladang konfirmasi mereka-mereka yang membutuhkan Populeritas, kontroversi, sensasi dan sekian banyak literasi. Terselip kata Siapa yang menguasai dunia informasi, dialah sesungguhnya akan menguasai media, demikian pepatah ini begitu mahsyur kita dengar akan besarnya kuasa media informasi. Memang agak dramatis kedengarannya, namun disadari atau tidak, kian hari pepatah itu kian terbukti kebenarannya. Lebih-lebih ketika media informasi telah menjadi sedemikian canggih seperti kita rasakan hari in. Informasi terbukti menjadi alat ampuh untuk menjajah pikiran manusia, mengendalikan sesuai dengan apa kita inginkan. Bila penjajahan secara fisik seperti militer akan mudah menyadarkan korbannya, karena di dalam diri manusia terdapat naluri mempertahankan diri. Maka sesungguhnya penjajahan ide menyusup dengan halus, menertibkan laku seseorang, tanpa sedikitpun orang itu menyadarinya. Bukan mustahil, sang korban menganggap penjajahnya sebagai mitra, teman penyelamat dan pemberi harapan.
       Romantika pembawa perspektif belaka menimbulkan sebuah wacana tentang apa yang terjadi ke depannya. Hirup pikuk berita yang di sampaikan menjadi sebuah obrolan di setiap masyarakatnya dan terbangunlah sebuah perspektif yang tidak jelas  dasarnya. Berbicara dasar maka akan di sampaikan mendalam, berbohong sekali maka akan di sampaikan berulang-ulang kali, memutarkan balikkan fakta itu menjadi sebuah hal yang lumrah karena informasi yang terkadang di sampaikan bukan lagi berbicara masalah manfaat untuk umat tapi berbicara tentang bagaimana manghasilan untuk satu umat.
       Sebagai fenomena yang terjadi di jakarta merupakan sebuah contoh dari segelintir berita yang ada dan terlihat peran media yang menghebohkan perspektif bangsa dengan berbagai unsur berita yang di sampaikan, sehingga timbul berbagai macam obrolan dimana – mana, tetapi jika kita analisa dan di tinjau dari unsur sejarahnya, masyarakat indonesia telah di pertontonkan oleh berita yang terlalu di dramastisir yang di buat oleh madia. Kita di pertontonkan oleh sikap politisi yang sengaja mengulur waktu untuk menenggelamkan diri ke partai politik, sikap yang seolah-olah di bikin tidak jelas mau kemana dii jadikan sebuah hal yang di pertontonkan khalayak banyak.