ROMANTIKA
POLITIK DALAM SOROTAN MEDIA
Media merupakan sarana
yang menjanjikan bagi mereka yang menginginkan sebuah populeritas demi tercapainya
sebuah tujuan, karena media mereka menjadi ada tanpa media mereka tidak ada
apa-apanya. Dahulu media hanya di jadikan sarana informasi tap semakin
berkembangnya zaman media menjadi ladang konfirmasi mereka-mereka yang
membutuhkan Populeritas, kontroversi, sensasi dan sekian banyak literasi.
Terselip kata Siapa yang menguasai dunia informasi, dialah sesungguhnya akan
menguasai media, demikian pepatah ini begitu mahsyur kita dengar akan besarnya
kuasa media informasi. Memang agak dramatis kedengarannya, namun disadari atau
tidak, kian hari pepatah itu kian terbukti kebenarannya. Lebih-lebih ketika
media informasi telah menjadi sedemikian canggih seperti kita rasakan hari in.
Informasi terbukti menjadi alat ampuh untuk menjajah pikiran manusia,
mengendalikan sesuai dengan apa kita inginkan. Bila penjajahan secara fisik
seperti militer akan mudah menyadarkan korbannya, karena di dalam diri manusia terdapat
naluri mempertahankan diri. Maka sesungguhnya penjajahan ide menyusup dengan
halus, menertibkan laku seseorang, tanpa sedikitpun orang itu menyadarinya.
Bukan mustahil, sang korban menganggap penjajahnya sebagai mitra, teman
penyelamat dan pemberi harapan.
Romantika pembawa perspektif belaka menimbulkan sebuah wacana
tentang apa yang terjadi ke depannya. Hirup pikuk berita yang di sampaikan
menjadi sebuah obrolan di setiap masyarakatnya dan terbangunlah sebuah
perspektif yang tidak jelas dasarnya.
Berbicara dasar maka akan di sampaikan mendalam, berbohong sekali maka akan di
sampaikan berulang-ulang kali, memutarkan balikkan fakta itu menjadi sebuah hal
yang lumrah karena informasi yang terkadang di sampaikan bukan lagi berbicara
masalah manfaat untuk umat tapi berbicara tentang bagaimana manghasilan untuk
satu umat.
Sebagai fenomena yang terjadi di jakarta merupakan sebuah
contoh dari segelintir berita yang ada dan terlihat peran media yang
menghebohkan perspektif bangsa dengan berbagai unsur berita yang di sampaikan,
sehingga timbul berbagai macam obrolan dimana – mana, tetapi jika kita analisa
dan di tinjau dari unsur sejarahnya, masyarakat indonesia telah di pertontonkan
oleh berita yang terlalu di dramastisir yang di buat oleh madia. Kita di
pertontonkan oleh sikap politisi yang sengaja mengulur waktu untuk
menenggelamkan diri ke partai politik, sikap yang seolah-olah di bikin tidak
jelas mau kemana dii jadikan sebuah hal yang di pertontonkan khalayak banyak.
pertama
BalasHapus